Artikel

WELCOME to Anak Rantau! Ternyata Kita Udah Dewasa, Ya?

Mahira Eka Putri Darmawan, Christabel Sherina

September 16, 2026

LinkedInX
WELCOME to Anak Rantau! Ternyata Kita Udah Dewasa, Ya?
    Dirangkum oleh AI. Baca artikel lengkap untuk detail lebih lanjut.

    “Home is where the heart is…” tapi kadang, hati kita masih ketinggalan di rumah, ya Kampus Mania?

    Baru juga beberapa minggu tinggal jauh dari rumah, tiba-tiba kangen masakan mama, kangen kamar sendiri, sampai kangen hal-hal receh kayak nggak perlu mikirin listrik atau galon habis.

    Penyebabnya bukan cuman karena jauh dari rumah. Bisa jadi ini soal jauh dari versi diri yang selama ini dijaga otomatis sama orang lain, which means orang tua!

    Kalau dulu Kampus Mania cuman tinggal bilang, “Ma, laper,” sekarang harus mikir sendiri, mau masak apa, beli dimana, dan budget-nya aman atau enggak. Kalau dulu cuman bantu bersihin rumah, sekarang semuanya diusahakan sendiri. Banyak hal yang dulu nggak pernah masuk daftar “hal yang perlu dipikirin”, sekarang jadi tanggung jawab harian.

    Fenomena ini sebenarnya punya istilah “transisi kemandirian”. Bukan sekedar pindah kota, tapi juga pindah peran, dari yang biasanya “diurus” jadi yang “ngurus diri sendiri”. Dan peran baru ini nggak datang dengan buku panduan. Nggak ada yang kasih tau persis gimana caranya bagi uang bulanan, atau gimana caranya bilang “nggak bisa” ke ajakan nongkrong karena harus berhemat ataupun sibuk ngerjain tugas.

    Terus… kapan sih transisi ini biasanya paling berat?

    Menariknya, penelitian soal adaptasi mahasiswa baru selalu nemuin pola yang mirip, dan ternyata, minggu-minggu awal itu justru bukan yang paling berat. Minggu pertama biasanya masih diwarnai euforia, kayak kenalan sama orang baru, eksplor kota baru, semua terasa fresh dan seru. Yang paling berat biasanya muncul di sekitar minggu ketiga sampai keenam, pas seru-serunya jadi “anak kuliahan” mulai mereda. Dan realita harian, kayak tugas numpuk, dompet menipis, bahkan sampai belum punya circle, terjadi secara bersamaan.

    Fase ini di dunia psikologi sering disebut culture shock versi mini, bukan cuma soal budaya negara lain, tapi juga soal budaya hidup yang baru, mulai dari ritme baru, aturan baru, bahkan cara ngatur waktu dan uang yang baru. Biasanya fase ini ditandai sama beberapa hal, kayak gampang capek meski nggak ngapa-ngapain, gampang kepikiran rumah tiba-tiba di tengah aktivitas, atau tiba-tiba ngerasa "ini semua terlalu banyak" padahal sebenarnya cuma numpuk pelan-pelan.

    Bedanya, setiap orang punya "titik berat" masing-masing. Ada yang paling struggle di soal keuangan, kaget karena uang bulanan lebih cepat habis dari yang dibayangkan. Ada yang paling berat di soal tugas dan deadline, ngerasa jadwal kelas kosong tapi tetap aja nggak sempat istirahat. Ada juga yang justru paling berat di sisi sosial, takut nggak dapat circle, ngerasa ketinggalan pas liat orang lain udah kelihatan punya "geng", atau bahkan ngerasa sendirian meski udah kenal banyak orang.

    Tapi kabar baiknya… semua fase ini normal, dan semua orang ngelewatinnya dengan cara masing-masing, dengan kecepatan masing-masing juga. Nggak ada yang namanya "harusnya udah selesai adaptasi di bulan sekian”. Beberapa hal yang bisa Kampus Mania pegang selama proses ini:

    1. Nggak apa-apa kalau belum nyaman sepenuhnya di awal. Adaptasi itu proses, bukan sesuatu yang harus langsung selesai dalam semalam.
    2. Rasa homesick bukan tanda gagal beradaptasi, itu cuma tanda kalau Kampus Mania emang punya rumah yang dicintai. Kangen itu hal yang sehat, bukan kelemahan.
    3. Bandingin progress diri sendiri dari minggu ke minggu, bukan sama pencapaian orang lain yang kelihatannya udah "settle”. Yang keliatan di luar belum tentu menggambarkan yang sebenarnya dirasain di dalam.
    4. Kasih diri sendiri waktu buat nyari ritme yang cocok, mulai dari soal kapan waktu produktif, kapan waktu istirahat, sampai kapan waktu buat sosialisasi. Ritme ini beda-beda buat tiap orang, dan nggak ada yang "paling benar”.
    5. Kalau ngerasa kewalahan, nggak masalah buat cerita ke orang lain, baik itu teman baru, teman lama, atau keluarga. Minta bantuan bukan berarti nggak mandiri.

    Jadi, buat Kampus Mania yang lagi ngerasa berat di fase ini, tenang aja, ini bagian dari proses yang (cepat atau lambat) bakal dilewatin semua orang. Nggak ada yang salah sama kalian, dan nggak perlu buru-buru "harus udah bisa" di semua hal.

    Kalau mau dengerin obrolan lebih dalam soal gimana caranya survive dan tetap enjoy di tempat baru, mulai dari ngatur uang biar nggak boncos tiap bulan, ngatur waktu biar tugas nggak numpuk, sampai cerita soal circle pertemanan dan gimana cara ngadepin rasa homesick… bisa banget dengerin CTRL : Coba Tanya Radio Lo! | ITB 101 Episode 2 : Survival Kit & Realita Hidup di Jatinangor Only On www.8ehradioitb.com pada Rabu, 16 September 2026 pukul 19.00-21.00 WIB! Catch you there, Kampus Mania!

    TagsSurvivalKuliahAdulting
    Mahira Eka Putri Darmawan

    Written by

    Mahira Eka Putri Darmawan

    Christabel Sherina

    Co-Author

    Christabel Sherina