Artikel
Nusantara VS Tetangga: Saat Warisan Bersama Jadi Bahan Sengketa

Kampus Mania tahu, nggak? Budaya Indonesia ternyata nggak selalu punya batas yang sama dengan batas negara! Sejak dulu, masyarakat di Asia Tenggara sudah saling terhubung melalui perdagangan, perpindahan penduduk, hingga pertukaran budaya. Nggak heran kalau akhirnya ada beberapa budaya yang memiliki kemiripin atau bahkan berkembang di lebih dari satu negara.
Tapi Kampus Mania pernah nggak bertanya-tanya, kalau suatu budaya digunakan oleh negara lain, apakah itu berarti budaya kita sedang diklaim?
Nah, persoalan ini bukan sesuatu yang baru. Beberapa budaya seperti Kebaya, Reog Ponorogo, dan Kolintang pernah menjadi bagian dari perdebatan mengenai identitas dan pengakuan budaya. Contohnya dalam sengketa budaya Reog Ponorogo—ketika muncul pemberitaan mengenai Reog yang dikaitkan dengan Malaysia, respons negatif datang dari pemerintah hingga para seniman dan masyarakat yang selama ini hidup bersama kesenian tersebut. Pada 2022 silam, para seniman Reog di Temanggung bahkan menggelar doa bersama sebagai bentuk ungkapan keresahan. Kasus ini menunjukkan bahwa sengketa budaya punya unsur yang sangat personal.

Ketika budaya “diklaim tetangga”, reaksi kita mungkin langsung merasa kesal dan menganggap budaya tersebut sedang “diambil” oleh orang lain. Padahal, ada hal lain yang juga perlu kita lihat. Budaya bukan cuma soal pakaian, tarian, atau alat musik. Di dalamnya ada sejarah, identitas, pengalaman, serta masyarakat yang terus menjaga dan mempraktekkannya. Jadi, ketika sebuah budaya memiliki kemiripan dengan budaya di negara lain, belum tentu hal itu berarti salah satu pihak sedang mencuri budaya pihak lainnya. Yang menjadi persoalan adalah ketika asal-usul, sejarah, dan kontribusi masyarakat yang menjaga budaya tersebut tidak lagi dikenali.
Di sisi lain, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri—setelah perdebatan selesai, apakah kita masih mengenal dan menggunakan budaya tersebut? Siapa tahu, ancaman terbesar bagi budaya bukan hanya datang dari negara tetangga, tetapi juga dari kita sendiri yang mulai meninggalkannya. Budaya nggak akan benar-benar hidup kalau hanya tercatat di atas kertas, melainkan perlu dipelajari, digunakan, dan diwariskan supaya tetap dekat dengan kehidupan generasi berikutnya.
Kampus Mania juga bisa ikut ambil bagian, lho! Mulai dari hal kecil seperti mendengarkan musik asli Indonesia, mengenal kesenian daerah, datang ke pertunjukkan budaya, membeli karya pengrajin lokal, sampai ikut komunitas budaya di sekitar kita. Pada akhirnya, menjaga budaya bukan hanya tentang memenangkan perdebatan dengan negara tetangga, melainkan tentang memastikan kita masih mengenal, menghargai, dan mau mewariskannya.
Jadi, Kampus Mania, kalau suatu hari budaya kita kembali menjadi bahan perdebatan, coba jangan cuma bertanya, “kenapa mereka mengambil budaya kita?” Tanyakan juga, “apa yang sudah kita lakukan untuk menjaganya?”
Masih belum puas bahas topik ini? Jangan sampai ketinggalan siaran “Nusantara VS Tetangga: Saat Warisan Bersama Jadi Bahan Sengketa” di hari Senin, 14 September 2026 pukul 19.00-21.00 WIB, only on website 8ehradioitb.com. Nusantara VS siap mengajak Kampus Mania melihat persoalan budaya dari dua sudut pandang yang berbeda!
Written by
Wilma Aulia Daniswara
Co-Author
Keren Ardelia Chandrasari
Co-Author
Laurensia Kirana Indrasari
